Arsip untuk musik

MUSIK dalam PEMENTASAN

Posted in corat-coret with tags , , , , , on Juli 12, 2011 by agus fauzi r

Teater sering disebut sebagai mixed art. Artinya, teater merupakan seni yang mampu mencampur ragam seni lainnya. Teater dapat mewadahi berbagai macam seni untuk “diaduk” menjadi satu hingga dapat disajikan lewat sebuah tontonan/pementasan teater. Hal itu tampak pada penggunaan unsur seni rupa pada artistik panggung, unsur gerak pada lakuan aktor, unsur suara dan musik pada pengucapan aktor dan penggunaan musik sebagai ilustrasi.

Komposisi penggunaan unsur-unsur seni yang telah disebutkan di atas, bergantung pada motif dan bentuk pementasan itu sendiri. Akan tetapi, keberhasilan sebuah pementasan –menurut saya- bukan pada unsur apa yang akan dikuatkan atau ditonjolkan, melainkan pada kemampuan sebuah pementasan untuk mengolah dan memunculkan unsur-unsur seni itu menjadi kesatuan yang padu, utuh, dan kuat.

Suara dan musik, secara umum merupakan unsur penunjang dalam pementasan. Suara dalam pementasan adalah keseluruhan bunyi yang diciptakan/dimunculkan dalam pementasan. Baik yang dimunculkan oleh aktor lewat pengucapan dan lakuan aktornya, maupun yang dimunculkan oleh segala benda yang ada dalam pementasan. Sedangkan musik dalam pementasan, lebih cenderung pada penataan suara dan penggunaan alat/benda yang dapat memunculkan bunyi, sehingga alat/benda itu menghasilkan bunyi-bunyian yang padu dan menunjang sebuah pementasan.

Meski sebagai unsur penunjang, suara dan musik akan selalu muncul dalam sebuah pementasan. Keduanya tidak bisa dihilangkan atau tidak dipakai. Teater “tanpa suara” selama ini –yang saya tahu- belum ada. Kecuali pementasan berlangsung di sebuah ruangan hampa udara, barangkali pementasan itu bisa tidak memunculkan suara sama sekali. Sedangkan musik, bisa tidak digunakan dengan catatan pementasan tersebut sudah kuat tanpa harus ada musik. Namun, wilayah yang digarap oleh pementasan salah satunya adalah irama. Sedangkan irama itu sendiri adalah salah satu unsur penting dalam musik.

Wujud irama dalam pementasan secara fisikal dapat terlihat pada pengaturan irama pengucapan, irama lakuan aktor, dan irama keseluruhan adegan pada pementasan. Irama harus diperhatikan dalam membuat pementasan. Sebuah pementasan yang minim irama, atau iramanya tidak teratur dan tidak rapi akan menjadikan pementasan kurang apresiatif. Seringkali, salah satu faktor yang memunculkan kesan pada penonton adalah pada pembentukan irama dalam pementasan. Penonton dapat “larut” dalam pementasan jika irama itu mampu menggiring apresiasi penonton mulai awal sampai akhir. Sebaliknya, penonton dapat merasa bosan atau jenuh ketika mengapresiasi sebuah pementasan yang kurang mampu menjaga iramanya.

Unsur yang mampu menjaga irama dalam pementasan adalah penataan suara dan musik. Hal itulah salah satu fungsi penting suara dan musik dalam pementasan, yaitu menjaga irama pementasan. Penempatan dan pemberian musik yang tepat akan membantu pementasan membentuk irama yang dinamis dan tetap menjaga irama pementasan mulai dari awal sampai akhir. Pemberian atau penempatan musik yang kurang tepat, akan menyebabkan pementasan kurang berhasil.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian dan penempatan musik antara lain:

  • Musik biasanya digunakan untuk membuka adegan awal sebuah pementasan. Hal itu bertujuan untuk mengantarkan penonton pada “atmosfer” pementasan.
  • Musik dapat ditempatkan pada pergantian adegan atau babak. Pergantian babak biasanya ditandai dengan panggung menjadi gelap, kru panggung menyiapkan set atau properti yang dipakai pada babak selanjutnya. Untuk tetap menggiring penonton dan menyambung irama antara babak sebelumnya dan babak yang akan dihadirkan, maka musik dapat dimunculkan.
  • Musik dapat membantu menguatkan pemunculan seorang pemain atau tokoh. Setiap pemain yang muncul akan membawa masalah atau suasana baru dalam adegan. Supaya masalah yang dimunculkan atau suasana baru itu lebih kentara, maka musik dapat digunakan untuk “mempertebal” adegan tersebut.
  • Musik dapat membantu penggambaran setting, baik setting waktu maupun setting tempat/lokasi yang dimunculkan dalam pementasan
  • Musik dapat digunakan “membungkus” adegan yang berirama lemah. Ketika dalam keseluruhan adegan dalam pementasan ada adegan yang iramanya landai atau jatuh, musik dapat digunakan untuk menaikkan atau paling tidak menjaga irama pada adegan tersebut.
  • Musik dapat turut “menggaris bawahi” bagian-bagian adegan yang dirasa penting. Dalam pementasan biasanya ada bagian yang memunculkan poin-poin pokok yang menjadi tema atau hal yang dibicarakan/dipermasalahkan dalam pementasan.
  •  Musik juga dapat menguatkan suasana yang dimunculkan dalam adegan. Misalnya untuk menguatkan suasana seram pada suatu adegan, maka dapat dimunculkan musik yang seram juga. Begitu juga dengan suasana-suasana yang lain.
  • Musik bisa digunakan sebagai penutup adegan. Jenis musik yang dimunculkan pada penutup adegan, bergantung pada bagaimana adegan dalam pementasan itu diselesaikan. Penutup adegan yang memberi kesimpulan atas berbagai hal yang diangkat dalam pementasan, tentu berbeda dengan penutup adegan yang masih menyisakan pertanyaan atas permasalahan yang dibicarakan dalam pementasan.

Untuk membuat musik, sebenarnya tidak membutuhkan alat-alat yang khusus. Segala benda yang bisa menimbulkan bunyi juga dapat dipakai untuk membuat musik. Yang penting adalah dari keseluruhan benda-benda itu mampu membentuk irama dan memunculkan suara yang sinkron dengan apa yang dibutuhkan pementasan. Memang hal yang perlu dikuasai oleh seorang pemain musik adalah paham irama. Belajar irama dulu baru belajar alat. Kalau belum/ tidak paham irama, sebaiknya tugas menjadi pemusik dalam pementasan diserahkan kepada orang yang lebih paham.

Catatan yang kedua yang perlu diperhatikan oleh penata musik pementasan adalah pemusik harus terlibat mulai awal dalam proses pembentukan pementasan. Bahkah ketika pementasan, mood pemusik harus sama dengan mood aktor dan mood suasana seluruh adegan mulai awal sampai akhir.

Barangkali itu dulu yang bisa dijelaskan disini, tidak banyak tetapi semoga cukup sebagai awal pengetahuan mengenai musik dalam pementasan.

Matur suwun!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.